SUARAMAHASISWA.INFO  |  NAKAL.TAJAM.MENGGELITIK

Launching Perdana Tabloid LPM Suaka

 Teks Oleh : Karel

Foto Oleh : Rima Mega Klara


CIMG6047

 Proses pemotongan tumpeng sebagai tanda syukur pada saat acara launching tabloid LPM Suaka di UIN SGD, Bandung (9/5).
 
Bandung-SM,-  Rabu (9/5), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka berhasil menggelar launching tabloid mereka  di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Jl. Raya Cipadung No. 105 CibiruBandung. Ini merupakan perhelatan launching mereka untuk pertama kalinya. Acara yang dimulai dari jam 3 sore dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan penampilan musik akustik. Untuk edisi kali ini, tabloid Suaka mengeluarkan edisi yang ke-7. Temanya sendiri yaitu Melacak Jejak Distribusi Beasiswa.
          Inti dari Isi tabloid tersebut mengungkap akan distribusi beasiswa yang seakan mengecewakan pihak mahasiswa. Akibatnya banyak yang tidak mendapat keterbukaan informasi mengenai distribusi tersebut.Selain itu, untuk rubrikasi ada sedikit perbedaan dari edisi sebelumnya, yaitu penambahan kolom dari laporan utama dan suara pembaca. Laporan utama yang sebelumnya hanya 2 kolom ditambah menjadi 4 kolom. Acara launching ini pun diiringi dengan melakukan potong tumpeng sebagai tanda syukur kalau acara ini bisa berjalan lancar. Pemotongan tumpeng juga dipimpin langsung oleh Pimpinan Umum (PU) Suaka , yaitu Fajar Fauzan.
          Nasrul Afidin selaku ketua pelaksana dari acara ini menjelaskan  konsep dari acara ini. ”Untuk sekarang konsepnya tentu saja untuk memperkenalkan tabloid edisi baru, selain itu saya tegaskan kalau Suaka itu ingin eksis agar semua orang tahu”, Tegas pria yang juga pemimpin perusahaan di Suaka. Dia pun mengungkapkan selain konsep tadi, acara ini juga bertujuan memberi kesempatan bagi anggota baru untuk membuat maupun mempelajari suatu acara. “Ya, beri kesempatan untuk mereka dulu, agar semuanya bisa belajar membuat ini semua”, Tutupnya.

 

AJI Tuntut Penyelesaian Diskriminasi Pers

 

Teks oleh : Karel

Foto oleh : M.Ghafur F

 


IMG 97171


Salah seorang anggota AJI yang memegang poster menolak impunitas terhadap jurnalis, Bandung (3/5).


Bandung, SM- Hari Kebebasan Pers Internasional yang jatuh pada 3 Mei di warnai
dengan aksi sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) di Gedung Sate Bandung (3/5).

Mereka melakukan aksi demo dan tutup mulut untuk menuntut hak jurnalis terkait kasus pembunuhan dan diskriminasi yang terjadi terhadap pers di Indonesia. Para pendemo memulai aksinya dengan menutup mulut mereka memakai plester berwarna hitam, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak mengusut tuntas delapan kasus pembunuhan para jurnalis. 

Salah satu anggota AJI regional Bandung, Adi Marseila, mengungkapkan peringatan Hari Pers Internasional adalah sebuah peringatan bahwa pers dan masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan pesan.  Menurutnya, saat ini kondisi penyampaian pesan di Indonesia dirasa sangat kurang, terbukti dari tahun 1996-2011 telah terjadi 8 kasus pembunuhan terhadap jurnalis yang kasusnya belum terungkap sampai saat ini. “Seperti yang kawan-kawan tahu, kasus Fuad Muhammad Syarifuddin jurnalis harian Bernas tahun 1996. Beliau meninggal
ketika meliput kasus korupsi di Bantul”, ucapnya.

Selain aksi tadi, Mat Don dari Majelis Sastra Bandung (MSB) sempat membacakan sebuah sajak yang bernama “Sakaratul Cinta”. Sajak tersebut berisikan keluhan yang menilai pemerintah seenaknya memimpin bangsa ini.  “Jika wartawan dijadikan budak belian dan umpan saja itulah sakaratul cinta”, itulah beberapa kutipan sajak tersebut.

 

 

Bumi Kala Ini

 


Oleh : Adil Nursalam
Foto : Istimewa
 
Jutaan tahun lamanya bumi berputar
Di tanah ini ku pijakan kaki dan melangkah
Miliaran manusia yang lahir dan mati silih berganti
Selama itu pula para umat hidup dan menanti
 
Apa arti bumi bagi kami?
Sebagai peristirahatan sejenak sebelum ke akhirat?
Apakah sebagai bagian tatasurya yang harus di rusak tanpa sebab
Atau hanya sepenggal sejarah dan di kenang
 
Bumi telah renta, tua dan hancur
berliku dan menanjak
Dimana kita akan berpijak
Apakah di bumi ini yang tak aman
 
Tanah yang subur kini susah di dapat
Panas, dingin udara kini tak menentu
Hutan rimba kini rusak tak ada guna
Tercemarnya air dan biota laut
 
Menebar angin menuai badai
Sesak rasanya bila melihat bumi dini ini
Tercemar, berpolusi, tak terjaga
Seperti tak ada upaya
 
Meremehkan bumi kala ini
Bangunkanlah
Lestarikanlah,
Di masa depan, bumi indah dinanti

(memperingati hari bumi sedunia “earth day”22 Maret 2012)

 

Diskusi Publik dalam Rangka HUT Jumpa Unpas ke-17

 


Teks Oleh : Dina Ken Ulamsari
Foto Oleh  : Adil Nursalam

Bandung - Sabtu (21/4), bertempat di aula Universitas Pasundan Jl. Lengkong Besar no.68, Jumpa mengadakan diskusi publik dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-17. Diskusi tersebut mengangkat tema “Cinta Indonesia Melalui Pendidikan”.
Diskusi publik yang dimulai dari pukul 08.00 WIB ini turut mengundang pembicara Ayu Kartika Dewi dari Pengajar muda Indonesia mengajar, Iwan Hermawan dari ketua Forum Guru Independen, dan Yusuf Yudha Erlangga sebagai penggagas rumah mimpi. Selain itu, hadir delegasi dari lembaga kemahasiswaan Unpas, seperti himpunan-himpunan, unit kegiatan mahasiswa, dan persma-persma di Bandung. Acara ini merupakan acara Eksternal dari serangkaian acara HUT Jumpa.
Dalam diskusinya, disebutkan bahwa pendidikan di Indonesia sendiri hampir belum terjamahi oleh anak-anak generasi masa depan, bahkan bagi anak-anak jalanan menjamahi kursi pendidikan saja tidak mungkin rasanya. Untuk itu dibukalah rumah impian untuk mereka yang kesehariannya hidup di jalan, disanalah mereka mendapatkan pendidikan-pendidikan sebagaimana mestinya mereka.
 
Selain itu diskusi ini berbagi pengalaman belajar mengajar, salah satunya cerita dari Ayu Kartika Dewi. “Saat pertama mengajar di sebuah sekolah di Maluku Utara sangat miris, disana harus mulai mengajarkan mereka Bahasa Indonesia dan adat Istiadat mencium tangan orang yang lebih tua,karena bagi mereka itu adalah hal yang aneh.” Ceritanya ketika sedang mengajar di Halmahera Maluku Utara.
Dalam diskusinya, Iwan Hermawan mengatakan empat dosa  masalah pendidikan yang dilakukan Pemerintah adalah UN, RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal), disentralisasi pendidikan, dan gonta-ganti kurikulum. Keempat dosa ini melanggar HAM dan USPN yang seharusnya konsisten pada tujuan pendidikan Nasional (USPN pasal 5). Adanya RSBI malah mengkhianati Sumpah Pemuda “Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia” karena kegiatan belajar mengajar yang cenderung menggunakan Bahasa Inggris.
Muthia Nur Fitriana sebagai Ketua Pelaksana menyebutkan alasanya tentang tema yang dibahas. “Jumpa mengambil tema Cinta Indonesia Melalui Pendidikan karena, kita sebagai kaum muda lebih baik menciptakan perubahan dan memotivasi mahasiswa untuk merubah Indonesia melalui pendidikan. Jangan hanya mengkritik sistem pemerintahannya saja,” jelas Muthia.

 

Page 1 of 7

Copyright © 2011

Suara Mahasiswa

Universitas Islam Bandung

Find Us