SUARAMAHASISWA.INFO  |  NAKAL.TAJAM.MENGGELITIK

Reviews - Top

1. 200 (portraits + Hopes Bandung People) 8.0
2. Semester Disaster 8.0
3. Antara Kemanusiaan dan Profesionalisme 8.0
4. From The Radio Dept Concert , Jakarta, 23th April 2011 8.0
5. Menatap Surya Terbenam 6.0

Reviews - Latest

1. Menatap Surya Terbenam 6.0
2. From The Radio Dept Concert , Jakarta, 23th April 2011 8.0
3. Antara Kemanusiaan dan Profesionalisme 8.0
4. Semester Disaster 8.0
5. 200 (portraits + Hopes Bandung People) 8.0

Menatap Surya Terbenam

Author Suara Mahasiswa
Sat 7 Jan 12
/ 10
N/A

 

sunsetgirl


Oleh : Sugiharto Purnama

Foto : Istimewa



Terik sinar mentari tepat di atas kepala membakar kulit Arum yang putih bagai mutiara Sulawesi. Hiruk-pikuk suara pedagang asongan yang sibuk menjajakan dagangan makin memperparah keadaan. Tak terlihat bus yang biasa digunakan sebagai sarana angkutan darat terparkir di loket. Hanya beberapa sobekan kertas koran yang berlarian kecil tertiup angin Utara. Arum tetap saja terlihat tenang walaupun tampak sesekali ia menoleh ke arah jam tangan.

Setelah separuh waktu berjalan, suasana hening pun menyelimuti, tanpa hiruk-pikuk para pedagang dan tanpa kendaraan yang lalu-lalang mempertebal bulu mata. Kini semuanya terlihat senyap, sebab sudah hampir satu jam Arum menunggu di loket Trans Jakarta. Kemudian Arum melihat sesosok tubuh paruh baya berjalanan mendekatinya yang lalu duduk di sebelahnya. Lelaki tersebut terlihat gelisah, ia tampak seperti sedang mencari sesuatu yang begitu berharga. Arum seakan tak bergeming dan tetap menunggu bus dengan tenang walauia terus menoleh ke jam tangannya.

“mau kemana mbak?.” Tutut lelaki tersebut sambil tersenyum manis yang seketika memecahkan keheningan.

“mau ke arah Jati Negara. Kalo kamu?”

“ke rumah sakit Hasanuddin.”

Seketika Arum tertegun mendengar jawaban lelaki tersebut, dan dalam hati arum bertanya-tanya siapakah gerangan yang sakit?. Saat keduanya masih terlarut dalam hening, tiba-tiba terdengar klakson kendaraan dari arah Timur, ternyata itu bus Trans Jakarta yang sudah lama Arum tunggu untuk mengantarnya beristirahat di rumah.

“Akhirnya datang juga.” Tutur Arum sembari menghela nafas

“Iya.” Sambung lelaki tersebut tersenyum ke arah Arum

Bus tersebut pun berhenti dan tampak jelas terlihat pertukaran penumpang ada yang keluar, ada pula yang masuk. Arum duduk di bagian paling depan, sedangkan lelaki tersebut duduk di bangku belakang. Sesekali Arum menoleh ke arah lelaki tersebut, tampak jelas terlihat lelaki tersebut masih tetap mencari sesuatu dengan membuka tasnya sendiri beberapa kali. Arum makin kebingungan dengan tingkah lelaki tersebut yang terlihat sangat gelisah.

Tiba-tiba bus tersebut berhenti tepat di depan loket, ketika Arum lihat ke arah luar jendela ternyata ia sudah tiba di Jati Negara dan itu berarti Arum harus segera turun. Kemudian bus tersebut pun pergi meninggalkan Arum dengan seorang lelaki misterius yang masih berada di dalamnya.


***

 

            Sore itu terlihat awan putih mulai menipis menghantarkan surya pada peraduan ujung cakrawala. Jelas terlihat lambaian daun kelapa menyapa para pengunjung pantai Selatan yang asyik menikmati suguhan makanan laut dengan ditemani oleh orang-orang terkasih mereka. Arum duduk di tepian dermaga mengarah ke samudra biru merona. Masih terpikir dalam benak Arum tentang lelaki yang ia temui tadi siang di loket pemberhentian bus dengan kebingungan yang dialami lelaki tersebut seakan menghipnotis pikiran Arum.

            Surya semakin jelas terlihat mendekati peraduannya, langit merah merekah menggiringnya dengan gemulai kecil. Seketika mata Arum tertuju pada seseorang yang baru saja turun dari mobil CRV hitam berplat nomer Bandung. Ternyata orang tersebut merupakan lelaki misterius yang ia temui tadi siang di loket, ia melihat lelaki tersebut ditemani oleh seorang wanita yang berpakaian ala perawat rumah sakit dan seorang anak kecil dengan infus yang menempel di tangan. Arum menjadi semakin bingung dengan lelaki tersebut. Tadi siang ia tampak kebingungan mencari sesuatu, tapi kini ia melihat lelaki tersebut tampak gembira bersama anak kecil yang dituntunnya menuju ke dermaga.

            Pandangan Arum lepas ke arah samudra, berusaha untuk melupakan sosok lelaki misterus tersebut dari pikirannya. Burung camar terbang melintas samudra luas kembali ke peraduannya untuk beristirahat. Orang-orang yang tadinya sibuk bergurau di Sea Food Restaurant kini telah berangsur menipis. Saat Arum terhanyut dalam pesona senja kaki langit, tiba-tiba terdengar sayup kecil dari seorang wanita yang berpakaian perawat.

            “Dok ... aku ke mobil sebentar ya? Fania pengen minum.” Tutur wanita tersebut sambil menunjuk ke arah mobil CRV hitam yang terparkir di sebelah pedagang kelapa muda

            “aku gak mau minum itu terus!.” Ungkap anak kecil tersebut dengan raut muka kesal

“Fania mau minum apa? Tapi jangan yang aneh ya permintaannya.” Tanya lelaki tersebut sambil tersenyum manis ke arah anak kecil bernama Fania

“aku mau minum air kelapa muda, sama kayak orang-orang. Aku kan udah sembuh.”

            “ya udah kalo gitu entar suster beliin.” Ungkap lelaki tersebut tersenyum

            Arum tertegun ternyata lelaki yang ia temui tadi siang adalah seorang dokter. Wajah arum seakan menebal berada diantara mereka. Arum seakan merasa bersalah karena mengira yang tidak-tidak tentang lelaki tersebut.


***

 

            Dengan berat Arum melangkahkan kakinya menuju mereka untuk sekedar menyapa mereka yang saat itu sedang asyik bergurau sembari menatap surya yang sebentar lagi akan terbenam.

            “hai ...” Ungkap arum tersenyum kepada mereka

            “hai juga ...” jawab anak kecil tersebut sembari membalas senyuman Arum

            “mbak yang tadi siang menunggu bus ya? kog agak beda.” Tanya lelaki tersebut dengan senyuman

            “iya bener. Ooo iya maaf kalo aku ganggu kalian.”

            “gak apa-apa kok.”

            “kami sekarang juga lagi santai dan gak ada kesibukan yang memberatkan.”

             Terlihat lelaki tersebut berbicara sama anak kecil berinfus. Ia membebaskan anak kecil tersebut untuk bermain dan berjalan kemana pun yang ia suka sembari menikmati suasana senja.

            “maaf ya aku telah berfikir yang tidak-tidak tentang Anda tadi siang.” Tutur Arum

            “oooh ... gak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf karena tingkah aku tadi siang telah membuat Anda risih.” Jawab lelaki tersebut tersenyum

Wajah lelaki yang tadinya penuh ceria kini berubah sedih. Seperti musim pancaroba yang tidak menentu sesaat melihat anak kecil tersebut yang tertawa lepas bermain bersama wanita yang berpakaian perawat.

            “ooo iya kita belum kenalan. Nama aku Edi Saputra.”

            “nama aku Arum Liana Putri.”

            “ternyata anda seorang dokter?.”

            “iya aku dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit Hasanuddin. Dan anak kecil tersebut bernama Fenia Dewi Oktari, ia mengidap kanker darah stadium akut yang hidupnya gak akan lama lagi.”

            Mata lelaki tersebut memandang ke arah anak kecil berinfus yang saat itu sedang asyik bermain bersama suster. Terlihat bening air mengalir dari balik kacamata Edi, tangannya mengusap air itu yang kian diusap kian bertambah deras cucurnya dan menganak sungai di pipinya. Arum pun tertegun melihat suasana yang ia temui hari ini. Suasana hati biru diantara awan-awan merah, ia pun terlarut di dalamnya. (Bersambung)

 

Only registered users may post a comment.

Reviewed using Simple Review

Copyright © 2011

Suara Mahasiswa

Universitas Islam Bandung

Find Us